Maju-Mundur

Di suatu remang petang, hati terasa begitu gundah. “Apa pun resikonya, keputusan harus saya ambil. Tetap bekerja di Sala atau pindah ke Salatiga.”

Menurut Pak Parsito, saat bertemu di Konperensi Kepala Sekolah-sekolah Kristen Jawa Tengah bulan April 1960, Universitas Kristen Satya Wacana membutuhkan tambahan pegawai. Saya diminta segera mengajukan lamaran kepada Presiden Universitas.

“Tuhan, berikanlah petunjuk-MU”, dan kerikil yang telah lama dalam genggaman, saya lemparkan ke arah tiang listrik di seberang tempat duduk.

“Theeeeeeengngngngngngng …..”, terdengar benturan batu dan besi dengan suara nyaring. Ternyata lemparan saya tepat mengenai sasaran. Mungkin hanya kebetulan, namun saat itu saya yakini sebagai idi[1] Tuhan, sehingga hati yang semula maju mundur, kini dapat diarahkan maju, tidak lagi mundur.

Soetjipto Wirowidjojo

Mungkin hanya kebetulan pula, kalau esok harinya datang surat panggilan yang ditandatangani Mr. O. Notohamidjojo, Presiden Universitas. Saya segera berpamitan kepada Pak Soetjipto Wirowidjojo yang berjabatan rangkap, selaku Ketua PPKS[2] dan Sekretaris PPSK[3].

“Sudah kau pertimbangkan dengan masak?”

Sampun[4], Pak”.

Saya tanggap bahwa di balik pertanyaan terselib keecewaan, apalagi saya belum pernah rasanan[5] bila berkeinginan pindah. Bukankah kedudukan sebagai pegawai negeri diperbantukan dirasa sudah mapan?

Saya menyadari bahwa ndherek[6] Pak Tjip sebagai pegawai Sekolah bersubsidi, SMP Kristen I, kemudian SKP Kristen Margoyudan, seterusnya ditarik ke PPKS dan Sekretariat PPSK merupakan pengalaman berorganisasi yang sangat berharga.

Saya juga sering diutus[7] ke PTPG-KI Salatiga, mengantar nilai tentamen, bahkan pernah diserahi tanggungjawab mengurus akomodasi enam orang mahasiswa angkatan pertama yang akan ke Bandung mengikuti ujian negara.

“Bekerjalah dengan baik!” dijabatnya tangan saya erat-erat dengan senyum dan sorot mata yang tajam dari balik kacamata. Hati terasa semedhot[8], berpisah dengan teman-teman sekerja, serta Pak Tjip yang selama 7 tahun dengan penuh perhatian memberi bimbingan.

Dan mulailah petualangan dalam kehidupan, meninggalkan kota kelahiran Surakarta Hadiningrat, tempat ayah ibu dikuburkan, meniti lembaran baru sebagai pegawai perguruan tinggi dengan status percobaan.

Karena di Salatiga yang saya kenal baru dua orang, Pak Marwoto Direktur SMA Kristen yang saat konperensi bertindak selaku tuan rumah dan Pak Parsito, pada hari pertama kedatangan saya pun njujug[9] ke Jl. Imam Bonjol 23C, kemudian ditunjukkan tempat pemondokan yang telah dipilihkan, rumah Pak Kusno Jl. Imam Bonjol 7. Hati terasa sangat senang karena beberapa hari kemudian saya ketahui kalau di seberang jalan, rumah Pak Marwoto dan Ibu Ferry Birsak, yang juga ngasta[10] di Satya Wacana. Setiap hari kami berangkat dan pulang bersama.

Kampus UKSW awal tahun 1962 berupa kebun jagung dan kelapa, bahkan banyak bagian dari tanah seluas 7 hektar berbelukar. Dua bangunan kembar sama dan sebangun, disebut Gedung A dan Gedung B, sedang sebuah bangunan lain yang lebih kecil terpisah agak jauh dikenal dengan nama Student Center, pusat kegiatan mahasiswa, masing-masing beratapkan gaya Minangkabau.[11]

Fernanda Birsak

Di belakang Aula A, Ruang A5, dipergunakan kantor Tata Usaha, sedang ruang A6 yang bergandengan untuk Pimpinan Universitas, dengan peralatan yang sangat sederhana. Rektor Magnifikus menempati pojok ruangan, dengan sebuah meja kerja yang di atasnya terletak patung seinggi 20 cm berwarna putih, tiruan hasil seni pahat zaman Kebudayaan Indonesia Hindu, serta dua buah kursi berhadapan. Pada dinding kiri tergantung foto wajah seorang ilmuwan lanjut usia yang tengah merenung, dan di sisi kanan, gambar Werkudara bergelut dengan seekor naga besar di tengah gelora samudera dalam kaca berbingkai kayu yang nampak usang termakan usia.

Di hadapan meja Rektor berdekatan dengan dinding berjendela kaca, sebuah meja makan oval warna kuning gading lengkap dengan enam kursi, tempat duduk Sekretaris Rektor Dra. C.J. Miedema dan para staf pengajar yang sedang istirahat. Di atas almari tanggung[12] yang selalu tertutup, terletak sebuah buku besar yang selalu terbuka,_”Encyclopedia Britannica, berdekatan dengan meja Rektor, sepasang kursi tamu sederhana ukiran Jeparan.

Di antara Ruang A5 dan A6, hanya dibatasi dinding penyekat yang dapat dipasang dan ditutup bila diperlukan. Pak Parsito selaku Kepala Tata Usaha menempati meja besar dekat sisi jendela, sedang staf lain masing-masing dengan sebuah meja adalah Ibu Soejariah, Ibu Ferry Birsak, Pak Oemar Sitoedjoe, Mas Maryono YE, Mas Driyanto dan saya. Mas Pardjiono menempati ruang kecil di samping A6, dengan sebuah mesin stensil dobel folio yang dibawa sejak PTPG-KI didirikan.

Gedung D, yang dibangun bersama dengan Gedung A dan B. Saat itu dikenal sebagai Student Center.

Kesan pertama yang tertangkap, Rektor Magnifikus adalah pribadi yang penuh pesona. Penampilannya simpatik, akrab dan murah senyum. Bahkan karena di antara ruang Rektor dan kantro hanya dibatasi dinding penyekat yang selalu terbuka, sering terdengar ger-geran[13] para penghuninya, tanpa diketahui apa yang dibicarakan.

Parsito

Meski demikian, dalam kenyataan kerja sehari-hari, untuk  menghadap Rektor hampir tidak ada keberanian mengayunkan kaki. Pak Parsito harus berkali-kali mengisap rokok, menaruh di asbak, minum, berdiri, duduk kembali untuk kemudian membenarkan letak kaca mata yang sudah pada tempatnya, baru melangkah masuk. Mas Driyanto, bila meminta tandatangan harus berkali-kali mondar-mondir di muka pintu dengan sekali-kali menggelengkan kepala, mengipaskan krah baju yang yang seakan ngregoni[14]. Ibu Ferry lebih dulu ke kamar kecil, sedang Mas Maryono dengan langkah yang amat pelan seakan berjalan di tempat, thimik-thimik[15] menuju sasaran. Pak Sitoedjoe jarang menghadap, kecuali kalau dipanggil. Ia pun tidak segera beranjak, tetapi tengok kanak tengok kiri, berbisi dengan rekan terdekatnya. Kata yang diulang-ulang: “Ada apa ya? Yang tidak nampak risau adalah Ibu Sodjariah, karena steiap pagi bertugas menerima surat-surat yang telah mendapat disposisi untuk dibagi-bagikan. Sebagai pegawai baru, saya jarang berkesempatan menghadap atau dipanggil Rektor.

Konon, pancaran kewibawaan yang terasakan oleh setiap orang yang berhdapan dengan Pak Noto, nama akrab yang melekat pada setiap hati warga Satya Wacana, menjadikan orang merasa salah tingkah. Terkenalnya akan disiplin untuk segala bidang kehidupannya, menjadikan kewibawaannya nyaris utuh. Setiap orang akan berusaha sungguh-sungguh melaksanakan tugas yang diberikan.

Kebiasaan yang pada awalnya terasa berat adalah mengucapkan salam “selamat pagi” kepada setiap orang yang saya temui, teristimewa kepada Pak Noto, karena kalau tidak cepat terucapkan, pasti akan didahului, menjadikan orang merasa kikuk[16]. Demikian juga apbila pada akhir kerja, kami terbiasa untuk saling mengucapkan “selamat siang”. Ucapan ini pertama kali datang dari Pak Noto yang bila pulang selalu melewati kantor dengan membawa tas. Nah, meski matahari telah condong ke barat, tetapi bila Rektor belum jengkar[17], di antara kami tak ada yang pulang mendahului. Dan agar tidak kelihatan nganggur, ada-ada saja yang kami kerjakan. Membuka-buka map, mengetetik kertas kosong agar terdengar nada sibuk, atau bagi Pak Sitoedjoe dimanfaatkan untuk nglinting[18] rokok, buat persediaan.

Noto (kiri) bersama C.J. Miedema (kanan), Sekretaris Rektor, di meja kerja ruang kerja lama PTPG-KI.

Kebiasaan lain yang lebih rumit adalah bagaimana menggunakan pesawat telepon dengan baik dan benar. Kebudayaan yang saya bawa dari negari[19] ternyata telah ketinggalan jaman. Kalau dulu, saya bisa menerima maupun bertelepon semau diri, sekarang harus dengan tatakrama[20]. Bila menerima, ucapan pertama adalah memberikan salam, “selamat pagi”, atau “selamat siang”, kemudian disusul dengan menyebut nama diri. Misalnya “selamat pagi, dengan Parsito.” Ucapan yang sama, mengawali pembicaraan saat bertelepon. Dengan demikian si pengirim maupun si penerima mengetahui dengan siapa ia berbicara.

Pernah pada suatu saat, Pak Noto muncul gara-gara mendengar salah seorang teman menerima telepon seenaknya. Teguran yang diberikan, tidak lagi dengan senyum tetapi dengan kata-kata yang keras, “jangan lagi diulang”, pesannya. Ledakan kemarahan juga pernah bergema saat salah seorang di antara kami menggunakan pesawat berlama-lama, malah diselingi gurauan “gunakan telepon seperlunya, karena yang membutuhkan layanan tidak hanya anda sendiri.”

Saat itu masih berlaku telepon onthel[21]. Untuk mendapat sambungan harus meminta ke kantor telepon lebih dahulu, tidak dapat langsung berbicara. Padahal salah seorang operatornya Igu Sitoedjoe isteri Pak Sitoedjoe. Karena kenal dengan bik, sering kami lupa, asyik ngobrol[22]. ***

 

 

Catatan Kaki:

[1] Idi: perekenan.

[2] PPKS = Perhimpunan Pendidikan Kristen Surakarta.

[3] PPSK = Perserikatan Perkumpulan Sekolah-sekolah Kristen Jawa Tengah.

[4] Sampun: sudah.

[5] Rasanan: menyampaikan keinginan.

[6] Ndherek: ikut, turut.

[7] Diutus: ditugasi.

[8] Semedhot: perasaan terputus.

[9] Njujug: langsung menuju tujuan.

[10] Ngasta: bekerja, berjabatan.

[11] Gedung A dengan atap gaya Minangkabau, mencerminkan kebinekaan penghuninya. Dinding penyekat ruang dapat dilepas, sehingga berubah fungsi sebagai pendapa besar, yang lantai tengahnya lebih tinggi, lajim untuk menreima tamu kehormatan dan pentas seni. Karena Ruang A5 dan A6 dipergunakan, berbagai kegiatan berlangsung di Gedung B.

[12] Tanggung: tanggung.

[13] Ger-geran: suara ramai tertawa.

[14] Ngregoni: menyusahkan.

[15] Thimik-thimik: berjalan pelan-pelan.

[16] Kikuk: canggung.

[17] Jengkar: berdiri, pindah tempat.

[18] Nglinting: melinting.

[19] Negari: ibukota erajaan; Sala, Yogya.

[20] Tatakrama: sopan santun.

[21] Onthel: alat pemutar dengan tangan.

[22] Ngobrol: percakapan tanpa arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *