Mundur-Maju

Baru dua bulan menikmati rumah pondokan, Ibu Soedjariah ndangu[1] saya, apakah bersedia sekiranya diusulkan untuk ndherek[2] Pak Noto, karena sebuah kamar di pavilyun Jl. Diponegoro 52 kosong? “Saya yang akan matur[3]”.

Wah, tawaran yang sama sekali tidak saya nyono-nyono[4]. Saya agak glagepan[5] untuk memberi jawab saat itu. Badan terasa dinign, dan detak jantung terasa makin seru. “Coba, dik Mbada pikir-pikir dulu”.

Untuk beberapa hari, saya tidak dapat tidur dengan nyenyak, takut menghadapi apa yang akan terjadi. Dan bagaikan mendengar bunyi guntur di tengah hari saat Ibu Soedjariah menyampaikan berita bahwa Pak Noto berkenan mengijinkan saya ndherek tinggal bersamanya.

Hari-hari menjelang kepindahan, saya lalui dengan penuh derita. Bila saat itu telah ada perlatan canggih yang mampu memantau apa yang berkecamuk dalam hati, mundur maju adalah grafik yang akan terpantau. Ada keinginan kuat untuk esok hari matur, saya tidak bersedia – mengundurkan diri. Tetapi pada saat saya harus berbicara, lidah terasa kelu, sedang hari berjalan amat cepat.

Pergumulan yang terus berlanjut dalam hati adalah; apakah saya mampu nyuwito[6] Pak Noto yang berkedudukan sebagai Rektor Magnifikus, penuh wibawa dan terkenal berperi kehidupan yang penuh disiplin? Padahal pola hidup yang telah terpateri, sebagaimana umumnya orang-orang Sala menghadapi semua persoalan hidup-termasuk tugas pekerjaan sehari-hari – dengan alon-alon anggere kelakon?[7] Padahal, dalam berjalan pun Pak Noto tidak pernah alon-alon[8], melainkan selalu serba cepat dan trengginas. Apakah saya tidak akan keponthal-ponthal[9]?

Saat itu saya lupa untuk mendapat petunjuk, karena seakan proses kepindahan yan tidak terduga ini telah merupakan paket yang terprogram dari atas[10] sehingga semuanya berjalan dengan mulus, pindah tempat dengan menjinjing sebuah tas berisi semua harta yang saya miliki.

“Ini kamar nak[11] Mbada, hanya ada sebuah dipan” Demikian Pak Noto saat menerima saya, setelah membuka pintu kamar, yang terletak di antara dapur dan kamar mandi.

“Bu Mangun, pembantu rumah tangga Pak Noto sebelum pulang sore hari, sempat menemui saya dengan berbisik, manti-manti “kalau ndherek Pak Noto hendaknya ngati-ati[12], karena beliau sangat kikrik. Kamar mandi dan WC harus selalu bersih, kering. Jangan slodeg[13].

Malam pertama saya lalui bukan dengan perasaan senang, tetapi nelangsa[14], mengapa saya menyanggupi untuk ndherek Pak Noto tanpa pertimbangan yang matang? Bukankah dengan demikian kemerdekaan saya akan hilang? Saya harus mulai membuka lembaran hidup dengan tanda tanya yang besar, karena meragukan kemampuan saya untuk nyuwito Pak Noto.

Pada saat terdengar azan subuh dari Mesjid di Kauman yang hanya berjarak setengah kilometer, pintu kamar terdengar ada yang mengetuk.

“Nak Mbada, wis wungu[15]?”

Yang empunya suara, telah saya kenal dengan baik, Pak Noto, menyapa dengan menggunakan basa ngoko[16], sebagaimana umumnya orang tua becakap dengan anak-anaknya, tetapi mengapa terselip krama inggil[17], yang tidak semestinya diucapkan orang tua, bahkan orang yang berkedudukan tinggi, kepada anak buahnya? Seharusnya sayalah yang menggunakan krama inggil itu untuk Pak Noto, bukan sebaliknya! Belum sempat terjawab teka-teki yang berlompatan di otak, Pak Noto paring dhawuh[18]: “Tak aturi siram, mengko padha lungguhan ana ngomah. Tak enteni[19].

Seperti kerbau dicocok hidungnya, saya segera menuju kamar mandi untuk raup[20], takut kalau kamar mandi menjadi basah. Bukankah ini merupakan pantangan?

Tatkala saya memasuki ruang makan, jam dinding menunjukkan pukul setengah lima. Pak Noto telah duduk di kursi yang tersusun mengitari meja makan, ngagem[21] kimono coklat tua, dan asyik bercukur dengan silet. Di atas meja tersedia air panas pada sebuah cawan. Kadang-kadang jari tangan dicelupkan untuk diusapkan, memperlicin proses pencukuran. Selesai dengan upacara paras[22], sebuah handuk kecil diusapkan untuk mengeringkan, kemudian jengkar[23] menyisihkan cawan dipindah ke meja dekat jendela.

Mangga diunjuk[24]”, kepada saya ditawarkan minuman kopi panas yang sejak tadi telah tersedia di meja. Dan Pak Noto pun mendahului mengangkat cangkir, minum kopi yang terasa sangat nikmat. Saya pun mengikuti dengan perasaan yang tidak karu-karuan[25]. Keringat dengan cepat keluar membasahi badan, akibat rasa kecut di hati dan tak tahan panasnya wedang kopi[26] yagn harus saya telan cepat-cepat.

“Bagaimana rasanya? Saya selalu minum kopi bukan dengan gula pasir, tetapi dengan gula jawa. Kalau nak Mbada tidak cocok, besok pagi boleh dengan gula pasir’. Kepada saya diberitahukan bahwa untuk seterusnya, setiap pagi bertugas menyiapkan air panas di dapur kemudian membuat minuman kopi, sekaligus dua buah. Untuk Pak Noto dan untuk saya sendiri. Wah, selama hidup belum pernah saya menimati kopi panas pada pagi hari.

Pembicaraan hari pertama berkisar pada masalah keluarga. Serentetan pertanyaan yang diajukan adalah siapa orang tua saya, apa pekerjaannya, kapan meninggal dan berapa saudara saya. Pak Noto dengan tekun mendengarkan, bahakn ada kalanya menanyakan tempat-tempat di mana beliau juga pernah tinggal.

“Saya pernah mengajar di Sekolah Dasar Latihan di Banjarsari pada tahun 1941-1943”. Ungkapnya. Saya tidak menyadari bahwa apa yang saya ceritakan ternyata direkam dengan baik. Pekerjaan ayah adalah tukang bordir[27] ageman[28]. Ingkang Sinuwun Susuhatan Paku Buwana ke X dan ke XI. Karena bukan abdi dalem[29], ayah Soerodidjojo, mencarikan ‘bapa asuh’ agar anaknya boleh mengikuti pendidikan di Taman Kanak-Kanak khusus untuk para pangeran, yang berjarak 50 meter dari Kraton dengan dua orang guru berkebangsaan Belanda. Maklum yang diperbolehkan menyekolahkan anak hanyalah abdi dalem berjabatan serendahnya ngabehi[30].

Gara-gara cerita ini, pada suatu saat saya terkejut menerima surat yang dikirim Pak Noto dari luar negeri, memberi embel-embel[31] di muka nama saya dengan R.M. singkatan yang lazim dipergunakan priyayi[32] Sala, Raden Mas. Saya tahu ini adalah salah satu humor khas Pak Noto, yang meski di tempat jauh, masih berhasil membuat orang tersenyum! Mungkin beliau kasihan melihat orang yang telah lama nyuwito seorang Begawan[33] tidak memiliki gelar, sehingga diciptakanlah gelar “RM” Honoris Causa”.

Sejak pertemuan hari pertama, tugas saya setiap pagi membuat jarang[34], di dapur, kemudian menuju ruang tengah, mengambil dua cangkir yang telah diracik[35] Pak Noto berisi gula Jawa dan kopi, kemudian dihidangkan dan dinikmati bersama, dengan perbincangan yang tidak lagi menyangkut masalah keluarga, tetapi berbagai permasalahan yang hangat.

Untuk menjaga kesehatan, disamping lari mengelilingi lapangan sepakbola dibelakang rumah, Pak noto juga rajin jalan pagi dari jam setenga lima sampai setengah tujuh, dengan rute berganti-ganti: Desa Kemiri, Bugel, Bringin atau Desa Kemiri, belakang SMP Pangudi Luhur, Diponegoro atau Andong, Pasar Sapi, Kawedanan atau Kalimangkak, Banyubiru, Kauman. Karena seringnya senhingga lekuk-liku jalan di daeerah itu benar-benar dikuasai. Dan dalam perjalanan itu pula, kuliah-kuliah sibuh terus merupakan pokok acara.

Tanpa saya sadari meski pada awalnya ditandai dengan keragu-raguan, maju-mundur, akhirnya setelah hampir mundur, melangkah maju. ***

 

Catatan Kaki:

[1] Ndangu: menanyakan.

[2] Ndherek: ikut, turut.

[3] Matur: menyampaikan kehendak.

[4] Nyono-nyono: disangka.

[5] Glagepan: timbul tengggelam dalam air karena sulit bernapas.

[6] Nyuwito: mengabdi.

[7] Alon-alon anggere kelakon: perlahan-lahan asal tercaapi tujuan.

[8] Alon-alon: perlahan-lahan.

[9] Keponthal-ponthal: sangat jauh ke tinggalan.

[10] Dari atas: kehendak Tuhan.

[11] Nak: sebutan orang tua terhadap anak memasan dengan sungguh.

[12] Ngati-ati: berhati-hati.

[13] Slodeg (slodijg) kemproh.

[14] Nelangsa: penyesalan.

[15] Wungu: bangun tidur.

[16] Basa ngoko: tatanan bahasa jawa yang dipergunakan antar kawan atau kepada anak-anak (tidak menghormati).

[17] Krama inggil: tatanan bahasa jawa yang tersopan.

[18] Paring dhawuh: perintah.

[19] Tak aturi siram, mengko padha lungguhan ana ngomah. Tak enteni: Dipersilahkan mandi dan ditunggu untuk diajak berbincang-bincang.

[20] Raup: cuci muka.

[21] Ngagem: memakai.

[22] Paras: bercukur.

[23] Jengkar: berdiri, pindah tempat.

[24] Mangga diunjuk: silakan minum.

[25] Karu-karuan: tidak dapat lagi dirasakan.

[26] Wedang kopi: minuman kopi.

[27] Tukang bordir: tukang penghias pakaian kerajaan.

[28] Ageman: pakaian.

[29] Abdi dalem: hamba raja, pegawai raja.

[30] Ngabehi: pangkat pegawai raja.

[31] Embel-embel: tambahan yang tak berarti.

[32] Priyayi: berdarah raja.

[33] Begawan: memiliki ilmu tinggi.

[34] Jarang: air panas.

[35] Diracik: dipersiapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *