Biografi

 

Dr. Notohamidjojo jika hendak kita tipekan dengan satu istilah yang tepat, beliau adalah seorang guru. Guru yang sebenarnya memberikan bimbingan dan pembinaan dalam arti yang seluas-luasnya dan untuk itu diperlukan modal berupa pengetahuan dan kebijaksanaan hidup untuk dapat diteruskan kepada para siswa.

Sebagaimana seorang guru dalam arti tradisionil mengumpulkan siswa dan membentuk suatu perguruan sebagai wadah pelayanannya, maka Dr. Notohamidjojo telah mendirikan serta mengasuh perguruan tinggi Satya Wacana sebagai karya hidup beliau (selama 17 tahun).

Riwayat Hidup

Beliau dilahirkan di kota kecil Blora pada tahun 1915 dalam keluarga Abdullahfatah seorang tokoh hukum agama dan pergerakan Islam. Jika ditelusur garis keturunan ke atas dapat diketemukan tokoh-tokoh menjabat di bidang pemerintahan dan bidang keagamaan. Agaknya dalam diri Dr. Notohamidjojo bersatulah dua cabang keahlian itu dengan serasi. Seorang rektor berkeahlian ilmu hukum, manager-administrator berpola kepemimpinan ‘Bapa’ dan seorang awam peminat theologia serta penggumul filsafat dari aliran Dooyeweerd.

Setelah tamat dari Hollandsch Zendingschool, sekolah dasar tujuh tahun berbahasa pengantar Belanda, yang dipimpin oleh Nona E. Kuckel, pada tahun 1929 beliau melanjutkan belajar ke Christelijke Hollands Inlandse Kweekschool di Sala, suatu sekolah pendidikan guru enam tahunan yang menyiapkan guru-guru untuk sekolah dasar. Meskipun maksud ayahanda sebenarnya supaya dengan menyekolahkan anak di Sala dapat diketahui rahasia metode penginjilan yang dilaksanakan oleh pendeta Zending Dr. Van Andel, tetapi sang anak menjelang pada suatu hari menghadap ayahanda dengan pemberitahuan bahwa pelajaran agama Kristen yang diterima dalam katekisasi amat menarik sehingga beliau mohon perkenanan ayahanda untuk dibaptiskan masuk Kristen. Hal ini baru kemudian sesudah usia 20 tahun dicapai, diizinkan oleh bapak Abdullahfatah dengan hati yang berat.

Pertobatan yang berdasarkan keyakinan penuh ini sangat berarti bagi hidup dan karya Dr. Notohamidjojo di kemudian hari. Setelah tamat dari Chr. H.I.K. pada tahun 1935 beliau tanpa bekerja terlebih dulu sebagai guru di H.I.S. yang sebenarnya merupakan syarat minimum diperkenankan belajar 3 tahun di Bandung untuk memperoleh akte kepala sekolah dasar pada hoofdactecursus di sana. Kawan sekelas sejak di H.I.K. dan di kursus tersebut antara lain Bapak S. Subanu, M.A. yang kemudian mendampinginya sebagai wakil rektor.

Dari tahun 1938 sampai pecah perang beliau bekerja di Sala sebagai guru sekolah dasar ‘Prins Bernhard School’, suatu sekolah latihan dari Chr. H.I.K. yang dipimpin oleh tuan H. Zweers. Pada sekolah tersebut bekerja pula Bapak S.M.A. Pasaribu yang kemudian ikut menyumbangkan gagasan dalam pendirian perguruan tinggi Kristen di Salatiga.

Di zaman pendudukan Jepang, sebentar setelah mengepalai sekolah dasar Kristen Banjarsari Sala, bekas Koningin Emma School dulu, beliau diangkat menjadi guru tetap untuk mata pelajaran Sejarah pada Shihang Gakko di Sala, suatu sekolah guru laki-laki yang melebur sekolah-sekolah guru Kristen dan Katholik di Jawa Tengah menjadi satu sekolah pendidikan guru model Jepang. Pekerjaan ini dilayani sampai zaman awal kemerdekaan. Antara tahun 1949-1956 sambil mengajar dan memimpin asrama di Sekolah Guru Atas Kristen di Salemba Jakarta di bawah pimpinan Bapak I.P. Simanjuntak, M.A. beliau mengusahakan waktu untuk berkuliah pada Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat dari Universitas Indonesia sampai tamat. Kawan studi beliau a.l. Bapak Surjandaru, S.H. yang kemudian menjadi salah seorang pembantu rektor; adapun guru besar di zaman Jakarta itu adalah antara lain para Profesor, Hazairin, Lemaire, Resink, dan Beerling.

Setelah lulus sarjana, Dr. Notohamidjojo menerima tawaran untuk memimpin PTPG Kristen Indonesia di Salatiga atas permintaan Ds. Basuki Probowinoto seorang anggota pengurusnya, juga seorang kawan lama dari zaman H.I.K. di Sala. Pemimpin PTPG tersebut dilaksanakan dengan bantuan teman-teman bekerja beliau seperti tuan Jac. v.d. Waals, Nona dra. M.C. Miedema, drs. H. Baas, dan drs. Soetjipto Wirowidjojo. Akademi Pendidikan Guru itulah yang kemudian pada tahun 1959 disempurnakan menjadi Universitas dengan nama Satya Wacana.

Pembentukan Pribadi

(Bagian ini sedang dikelola oleh Admin)

Kegiatan di Bidang Politik dan Kegerejaan

(Bagian ini sedang dikelola oleh Admin)

Satya Wacana : “Setia Sabda”

(Bagian ini sedang dikelola oleh Admin)